Jurnal Kesehatan Panrita Husada https://ojs.stikespanritahusada.ac.id/index.php/jkph <p><strong data-start="254" data-end="296">Jurnal Kesehatan Panrita Husada (JKPH)</strong> merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh <strong data-start="343" data-end="410">Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Panrita Husada Bulukumba</strong>, di bawah pengelolaan <strong data-start="433" data-end="495">Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM)</strong>. Jurnal ini hadir sebagai wadah ilmiah untuk mempublikasikan hasil penelitian, kajian ilmiah, serta laporan studi kasus di bidang kesehatan dan keperawatan, baik dari kalangan akademisi, praktisi, maupun peneliti.</p> <ul data-start="897" data-end="1308"> <li data-start="1095" data-end="1142"> <p data-start="1097" data-end="1142"> </p> </li> </ul> Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Stikes Panrita Husada Bulukumba en-US Jurnal Kesehatan Panrita Husada 2502-745X Gambaran Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus di Rumah Sakit X Tangerang https://ojs.stikespanritahusada.ac.id/index.php/jkph/article/view/617 <p>Kualitas hidup merupakan persepsi seseorang terhadap posisi mereka dalam kehidupan, yang dipengaruhi oleh konteks budaya, sistem nilai, dan lingkungan tempat tinggal. Kualitas hidup mencakup kesehatan fisik dan psikologis, tingkat kemandirian, hubungan sosial, kepercayaan diri, serta interaksi dengan lingkungan sekitar. Pada pasien Diabetes Melitus, kualitas hidup dapat terpengaruh oleh kondisi penyakit kronis, pengelolaan kesehatan, serta dukungan sosial dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas hidup pasien Diabetes Melitus di Rumah Sakit X, Tangerang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 30 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner kualitas hidup dengan 12 item pertanyaan berdasarkan alat ukur WHOQOL-BREF. Data dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan kualitas hidup responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 30 responden, 14 orang (46,7%) memiliki kualitas hidup baik, sedangkan 16 orang (53,3%) memiliki kualitas hidup kurang baik. Karakteristik responden didominasi oleh usia di atas 48 tahun (21 responden, 70%), perempuan (19 responden, 63,3%), pendidikan menengah (18 responden, 60%), dan sebagian besar tidak bekerja (22 responden, 73,3%). Kesimpulannya, sebagian besar pasien Diabetes Melitus di Rumah Sakit X, Tangerang memiliki kualitas hidup yang kurang baik. Hasil ini menunjukkan perlunya intervensi yang lebih optimal, baik melalui manajemen kesehatan, dukungan psikologis, maupun interaksi sosial, untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.</p> Nurul Akhsani Roza Indra Yeni Maria Susila Sumartingsih Ricky Riyanto Iksan Copyright (c) 2026 Jurnal Kesehatan Panrita Husada 2026-03-30 2026-03-30 11 1 22 31 10.37362/jkph.v11i1.617 Gambaran Coping Stres Pada Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja PT X https://ojs.stikespanritahusada.ac.id/index.php/jkph/article/view/621 <p><em>Coping</em> stres merupakan strategi individu dalam mengelola tekanan yang muncul akibat situasi dan peristiwa yang menimbulkan stres. Mahasiswa yang bekerja sambil menempuh pendidikan rentan mengalami stres karena harus menyeimbangkan tuntutan akademik dan tanggung jawab pekerjaan. Kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan mental, motivasi belajar, serta kinerja akademik mereka. Penelitian ini bertujuan untuk diketahui tingkat <em>coping</em> stres mahasiswa yang bekerja di PT X. Metode penelitian Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Sampel penelitian terdiri dari 73 responden yang dipilih dengan teknik total sampling. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner <em data-start="893" data-end="952">Brief Coping Orientation to Problem Experienced Inventory</em> (Brief-COPE) yang terdiri atas 28 item pertanyaan. Data dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui distribusi penggunaan <em>coping</em> adaptif maupun maladaptif. Hasil Sebagian besar mahasiswa (75,3%) menggunakan <em>coping</em> adaptif, sedangkan 24,7% menggunakan <em>coping</em> maladaptif. Nilai rata-rata 1,25 menunjukkan <em>coping</em> stres berada pada kategori baik namun mendekati kurang baik. Variasi yang ditunjukkan standar deviasi 0,434 mengindikasikan adanya perbedaan kemampuan mahasiswa dalam mengelola stres kesimpulan Mahasiswa yang bekerja berisiko lebih tinggi mengalami stres, sehingga diperlukan <em>skrining</em> rutin dan intervensi kampus untuk mendorong penggunaan <em>coping</em> yang konstruktif.</p> Miranda Gista Maharani Maria Susila Sumartiningsih Copyright (c) 2026 Jurnal Kesehatan Panrita Husada 2026-03-30 2026-03-30 11 1 1 10 10.37362/jkph.v11i1.621 Pemantauan Hemodinamik Pada Tata Laksana Resusitasi Cairan Pasien Bradikardia Asimptomatik Dengan Riwayat Hipertensi https://ojs.stikespanritahusada.ac.id/index.php/jkph/article/view/796 <p>Kualitas hidup merupakan persepsi seseorang terhadap posisi mereka dalam kehidupan, yang dipengaruhi oleh konteks budaya, sistem nilai, dan lingkungan tempat tinggal. Kualitas hidup mencakup kesehatan fisik dan psikologis, tingkat kemandirian, hubungan sosial, kepercayaan diri, serta interaksi dengan lingkungan sekitar. Pada pasien Diabetes Melitus, kualitas hidup dapat terpengaruh oleh kondisi penyakit kronis, pengelolaan kesehatan, serta dukungan sosial dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas hidup pasien Diabetes Melitus di Rumah Sakit X, Tangerang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 30 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner kualitas hidup dengan 12 item pertanyaan berdasarkan alat ukur WHOQOL-BREF. Data dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan kualitas hidup responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 30 responden, 14 orang (46,7%) memiliki kualitas hidup baik, sedangkan 16 orang (53,3%) memiliki kualitas hidup kurang baik. Karakteristik responden didominasi oleh usia di atas 48 tahun (21 responden, 70%), perempuan (19 responden, 63,3%), pendidikan menengah (18 responden, 60%), dan sebagian besar tidak bekerja (22 responden, 73,3%). Kesimpulannya, sebagian besar pasien Diabetes Melitus di Rumah Sakit X, Tangerang memiliki kualitas hidup yang kurang baik. Hasil ini menunjukkan perlunya intervensi yang lebih optimal, baik melalui manajemen kesehatan, dukungan psikologis, maupun interaksi sosial, untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.</p> Zilvia Muallim Abdul Majid Copyright (c) 2026 Jurnal Kesehatan Panrita Husada 2026-03-30 2026-03-30 11 1 44 58 10.37362/jkph.v11i1.796 Gambaran Tingkat Stres Kerja Perawat di Rumah Sakit X https://ojs.stikespanritahusada.ac.id/index.php/jkph/article/view/892 <p>Stres kerja merupakan salah satu permasalahan psikososial yang sering dialami oleh perawat sebagai akibat dari tuntutan pekerjaan, beban kerja yang tinggi, serta tanggung jawab profesional dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. Kondisi stres kerja yang tidak dikelola dengan baik dapat berdampak negatif terhadap kinerja perawat, kesehatan fisik dan mental, serta mutu pelayanan keperawatan yang diberikan. Oleh karena itu, identifikasi tingkat stres kerja perawat menjadi hal penting sebagai dasar perencanaan upaya pencegahan dan pengelolaan stres di lingkungan rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran tingkat stres kerja perawat di Rumah Sakit X. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian adalah seluruh perawat yang bekerja di Rumah Sakit X sebanyak 143 orang. Penentuan jumlah sampel dilakukan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 10%, sehingga diperoleh sampel sebanyak 58 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling sesuai dengan kriteria inklusi yang telah ditetapkan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner stres kerja perawat, kemudian dianalisis secara univariat untuk memperoleh distribusi frekuensi, persentase, nilai mean, dan standar deviasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar perawat mengalami stres kerja ringan, yaitu sebanyak 56 responden (96,6%), dengan nilai rata-rata skor stres sebesar 79,1 ± 0,609. Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat stres kerja perawat berada pada kategori rendah dan relatif homogen. Tidak ditemukan responden dengan tingkat stres berat. Kesimpulannya, tingkat stres kerja perawat di Rumah Sakit X berada pada kategori ringan, sehingga perlu dilakukan upaya berkelanjutan untuk mempertahankan lingkungan kerja yang kondusif dan mendukung kesejahteraan perawat.</p> Olivia Florentina Bara Ricky Riyanto Iksan Maria Susila Sumartiningsih Roza Indra Yeni Copyright (c) 2026 Jurnal Kesehatan Panrita Husada 2026-03-31 2026-03-31 11 1 92 102 10.37362/jkph.v11i1.892 Gambaran Kinerja Perawat Pelaksana di Rumah Sakit X Tangerang https://ojs.stikespanritahusada.ac.id/index.php/jkph/article/view/600 <p>Kinerja perawat pelaksana merupakan indikator penting dalam menentukan mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit. Rumah Sakit X Tangerang menghadapi tantangan berupa tingginya beban kerja dan keterbatasan sarana yang dapat memengaruhi kualitas pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kinerja perawat pelaksana di Rumah Sakit X Tangerang. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan jumlah sampel 73 perawat pelaksana yang ditentukan melalui rumus Slovin. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner tertutup berisi 21 pernyataan yang mengukur aspek kualitas, kuantitas, ketepatan waktu, dan efektivitas kinerja. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa seluruh responden (100%, n=73) mayoritas berjenis kelamin perempuan (90,4%), berusia 26–35 tahun (75,3%), berpendidikan Profesi Ners (84,9%), dan sebagian besar memiliki lama bekerja satu tahun (47,9%). Berdasarkan hasil penelitian, kinerja perawat pelaksana berada pada kategori cukup sebanyak 47 orang (64,4%), kategori baik sebanyak 25 orang (34,2%), dan hanya 1 orang (1,4%) yang termasuk dalam kategori kurang. Temuan ini mengindikasikan bahwa secara umum kinerja perawat di Rumah Sakit X Tangerang tergolong baik, meskipun mayoritas masih berada pada kategori cukup. Oleh karena itu, diperlukan upaya dari pihak perawat maupun manajemen rumah sakit untuk meningkatkan kinerja melalui pengelolaan beban kerja, peningkatan sarana, serta pelatihan berkelanjutan guna mencapai standar kinerja yang lebih optimal.</p> Meilani Ifarotul Khasanah Ricky Riyanto Iksan Roza Indra Yeni Maria Susila Sumartiningsih Copyright (c) 2026 Jurnal Kesehatan Panrita Husada 2026-03-30 2026-03-30 11 1 32 43 10.37362/jkph.v11i1.600 Gambaran Dukungan Emosional Keluarga pada Pasien Gagal Jantung Congestive Heart Failure (CHF) di Rumah Sakit X Tangerang https://ojs.stikespanritahusada.ac.id/index.php/jkph/article/view/618 <p>Gagal jantung kongestif <em>(Congestive Heart Failure/CHF)</em> merupakan salah satu penyakit kronis dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi di Indonesia maupun dunia. Kondisi ini menimbulkan dampak signifikan terhadap kesehatan fisik, psikologis, serta kualitas hidup pasien. Dukungan emosional keluarga memiliki peran penting dalam membantu pasien menghadapi keterbatasan akibat CHF, antara lain dengan memberikan motivasi, kenyamanan, dan rasa aman. Penelitian ini bertujuan untuk diketahui dukungan emosional keluarga pada pasien CHF di Rumah Sakit X Tangerang tahun 2025. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Populasi penelitian mencakup seluruh pasien CHF yang dirawat di RS X Tangerang sebanyak 244 orang. Sampel berjumlah 71 responden yang dipilih melalui teknik <em>purposive sampling</em>. Instrumen penelitian berupa kuesioner dukungan emosional keluarga yang terdiri dari 6 item pertanyaan dengan skala Likert. Analisis data dilakukan secara univariat untuk memperoleh distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berusia 46–59 tahun (46,5%), berjenis kelamin laki-laki (50,7%), dengan tingkat pendidikan terakhir SMP (52,1%). Sebagian besar responden tinggal bersama keluarga besar (43,7%) dan menderita CHF kurang dari 1 tahun (47,9%). Berdasarkan dukungan emosional, 57,7% responden memperoleh dukungan baik, 32,4% cukup, dan 9,9% kurang. Kesimpulannya, dukungan emosional keluarga pada pasien CHF di RS X Tangerang sebagian besar tergolong baik, sehingga keluarga berperan penting dalam memperbaiki kualitas hidup pasien serta mencegah rehospitalisasi.</p> Nadia Safinaningsih Ricky Riyanto Iksan Rima Berlian Putri Roza Indra Yeni Copyright (c) 2026 Jurnal Kesehatan Panrita Husada 2026-03-30 2026-03-30 11 1 11 21 10.37362/jkph.v11i1.618 Evaluasi Pemberian Terapi Oksigen Dan Posisi Supine 45 Derajat Terhadap Stabilitas Hemodinamik Pasien Anak Dengan Community Acquired Pneumonia dan Perdarahan Saluran Cerna https://ojs.stikespanritahusada.ac.id/index.php/jkph/article/view/787 <p>Pneumonia menyumbang angka kesakitan yang tinggi dengan lebih dari setengah juta kasus yang dilaporkan setiap tahunnya pada anak usia di bawah lima tahun di Indonesia. Efektivitas oksigenasi pada pasien anak tidak hanya ditentukan oleh metode pemberian oksigen, tetapi juga oleh posisi tubuh selama perawatan. Berbagai posisi seperti <em>prone</em>, <em>semirecumbent</em>, <em>fowler</em>, dan <em>lateral</em> terbukti dapat meningkatkan saturasi oksigen, menstabilkan hemodinamik, dan mencegah kejadian <em>ventilator-associated pneumonia</em> (VAP). Tujuan dari tulisan ini, untuk menjelaskan Evaluasi Pemberian Terapi Oksigen dan Posisi Supine 45 Derajat terhadap Stabilitas Hemodinamik Pasien Anak dengan Community Acquired Pneumonia dan Perdarahan Saluran Cerna. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus terhadap An. A, pasien perempuan usia 4 tahun 7 bulan dengan diagnosis Community Acquired Pneumonia dan perdarahan saluran cerna. Intervensi yang dilakukan adalah pemberian oksigen 8 liter/menit melalui Simple Mask dan perubahan posisi menjadi supine dengan elevasi kepala 45°. Parameter vital signs dan saturasi oksigen dipantau setiap 30 menit. Berdasarkan hasil studi kasus yang dilakukan terhadap seorang pasien anak dengan diagnosis Community Acquired Pneumonia dan perdarahan saluran cerna, maka hasil penelitian menunjukkan bahwa; pemberian oksigen melalui Simple Mask dengan aliran 8 liter/menit yang dikombinasikan dengan posisi supine elevasi kepala 45° memberikan dampak positif terhadap stabilitas hemodinamik dan oksigenasi pasien selama fase awal observasi. Terjadi peningkatan tekanan darah dan MAP, penurunan frekuensi nadi dan napas, serta peningkatan saturasi oksigen secara signifikan hingga mencapai kondisi stabil selama kurang lebih 4 jam. Namun, efektivitas intervensi menurun pada fase akhir meskipun alat bantu pernapasan telah ditingkatkan, mengindikasikan bahwa intervensi lanjutan lebih invasif mungkin diperlukan pada kondisi yang memburuk. Secara keseluruhan, kombinasi terapi ini terbukti bermanfaat sebagai tindakan awal yang efektif, aman, dan dapat diterapkan di ruang IGD anak untuk pasien dengan kondisi serupa.</p> Fahila Azmi Marasabessy Abdul Majid Copyright (c) 2026 Jurnal Kesehatan Panrita Husada 2026-03-31 2026-03-31 11 1 58 82 10.37362/jkph.v11i1.787 Kepatuhan Perawat dalam Melakukan Triage di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit X https://ojs.stikespanritahusada.ac.id/index.php/jkph/article/view/891 <p>Pelayanan triase di Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan tahap penting dalam menentukan prioritas penanganan pasien sesuai tingkat kegawatdaruratan. Kepatuhan perawat dalam melaksanakan triase sangat berpengaruh terhadap keselamatan pasien dan mutu pelayanan kesehatan. Namun, dalam praktiknya masih ditemukan ketidaksesuaian penerapan metode triase. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kepatuhan perawat dalam melakukan triase di IGD Rumah akit X. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional, yaitu pengumpulan data dilakukan pada satu waktu untuk mengetahui tingkat kepatuhan perawat. Populasi penelitian adalah seluruh perawat yang bertugas di IGD, dengan teknik total sampling sebanyak 30 responden. Instrumen yang digunakan berupa lembar observasi kepatuhan triase berdasarkan standar yang berlaku. Data dianalisis secara univariat untuk memperoleh distribusi frekuensi, persentase, nilai rata-rata, dan standar deviasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas perawat memiliki tingkat kepatuhan kurang, yaitu 17 orang (56,7%), sedangkan 13 perawat (43,3%) memiliki kepatuhan baik. Nilai rata-rata kepatuhan perawat adalah 1,65 dengan standar deviasi 0,505. Kesimpulannya, kepatuhan perawat dalam melakukan triase di di IGD Rumah akit X masih didominasi kategori kurang. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan melalui pelatihan dan penyegaran berkala untuk meningkatkan kualitas dan keselamatan pelayanan di IGD.</p> Muhammad Iqbal Habib Ricky Riyanto Iksan Rima Berlian Putri Maria Susila Sumartiningsih Copyright (c) 2026 Jurnal Kesehatan Panrita Husada 2026-03-31 2026-03-31 11 1 83 91 10.37362/jkph.v11i1.891